:::: MENU ::::
  • Suitable for all screen sizes

  • Easy to Customize

  • Customizable fonts.

Simple, responsive theme, suitable for personal or corporate blog.

Senin, 16 Mei 2016

PROFIL:
Nama :Syarif Muhammad Nur Taufiq
No Hp: 089693824926
Email: synurtaufiq@gmail.com

Minggu, 15 Mei 2016

Wawancara Syarif
JAKARTA – Syarif Muhammad Nur Taufiq dan Nurul Anisa, siswa SMA Negeri 4 Pontianak, Kalimantan Barat menjadi pemenang dalam Lomba karya Ilmiah National Young Inventors Award (NYIA) ke-7 tahun 2014 yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pasangan ini meraih yang terbaik dengan judul karya “Lens_RG: Lensa Kontak Bagi Penderita Buta Warna Parsial Merah-Hijau”.
 
Menurut Syarif, keinginannya membantu seseorang yang buta warna derawal dari dua kakak kelasnya. Kedua kakak kelasnya menderita buta warna parsial saat sedang konsultasi mengenai masuk di perguruan tinggi. Memang ada beberapa jurusan di perguruan tinggi yang mengharuskan tes mata atau tes ishihara sebelum dinyatakan diterima.  “Dari situlah ide saya mengangkat tema lensa pendertita buta warna. Untuk itu saya juga berkonsultasi dengan Mr. Jorion berasal dari Rumania,” ucapnya Syarif Muhammad Nur Taufiq digedung LIPI, Jakarta Pusat, Sabtu malam (1/11).
 
Dijelaskan Syarief saat tes, kakak kelasnya tak dapat mengindentifikasi angka 5 yang dianggapnya angka 2 di tes ishihara yang menggunakan media titik-titik berwarna. Melihat kakak kelasnya mengalami buta warna merah-hijau, Syarif lalu berkonsultasi dan melakukan pencarian litelatur di Internet. Akhirnya dia menemukan kaca mata entroma yang dapat meningkatkan gradasi warna, tapi di Indonesia tidak ada. Syarief pun berpikir bagaimana cara membuatnya dengan sederhana. Akhinya dia memodifikasi lensa biasa yang dijual di optik atau klinik mata dengan larutan pigmen batang tanaman Secang.
 
”Kita blender batang secang yang di dalamnya mengandung pigmen khusus bisa meningkatakan gradasi warna dan itu dapat mengatasi buta warna. Karena sebenarnya penderita buta warna parsial mengalamai penurunan gradasi warna dan bagaimana kita mengatasi atau meningkatkan gradasi warna, agar mereka dapat melihat seperti orang normal,” terang Syarief.
 
Syarief kemudian merendam 24 jam lensa dari hasil blender batang secang yang telah disentifikasi atau masa perendaman. Pada masa setelah itu, lensa yang tadinya direndam akan memunculkan warna merah yang berfungsi menaikkan gradasi pada penderita buta warna parsial.
 
“Saat seorang menggunakan lensa itu, maka akan membantu penglihatan. Tapi temuan saya masih ada beberapa warna reseptor yang belum bisa dilihat. Namun, secara umumkan dapat membedakan warna merah dan hijau di lembar tes ishara,” katanya.
 
Siswa kelas 3 SMA asal Pontianak ini menyatakan, buta warna parsial adalah penyakit turunan dan sekarang belum ada obatnya. Pihaknya hanya membantu lewat lensa, lewat temuan lensa kontak.
 
“Dengan juara 1 ditingkat nasional pada NYIA ke-7, saya ingin memproduksi banyak lensa atau kaca mata dan ingin mendapatkan hak paten. Namun, sayangnya masa pengurusnya lama hampir satu tahun,” tutup.
 
Untuk diketahui Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai banyak penderita buta warna parsial, dengan 0,7 persen adalah buta warna trikromasi (warna merah dan hijau). Sedangkan buta warna ada 3 yaitu trikromasi, dikromasi (buta warna biru), dan monokromasi (Buta warna total).
Sekarang Syarif juga masuk nominasi SCTV liputan 6 award 2015 kategori anak muda inspiratif indonesia sungguh karya yang luar biasa .


A call-to-action text Contact us